Silaturahmi Ulama Bassra dan DPR RI Perkuat Sinergi Pemberantasan Narkoba

avatar jatiminvestigasinews.id
  • URL berhasil dicopy
Ulama Bassra bersama anggota Komisi III DPR RI, Habib Abu Bakar Al Habsyi, usai silaturahmi di kediaman KH Imam Bukhori, Bangkalan, Senin (20/9/2026). Istimewa/Bn.
Ulama Bassra bersama anggota Komisi III DPR RI, Habib Abu Bakar Al Habsyi, usai silaturahmi di kediaman KH Imam Bukhori, Bangkalan, Senin (20/9/2026). Istimewa/Bn.

Jatiminvestigasinews.id, Bangkalan — Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Torjun, Dr KH Muhammad Aunul Abied Syah LC MA, menghadiri pertemuan ulama yang tergabung dalam Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura atau Bassra bersama anggota Komisi III DPR RI, Habib Abu Bakar Al Habsyi. Kegiatan berlangsung di kediaman KH Imam Bukhori, Bangkalan, Senin, 20 September 2026.

Pertemuan tersebut menjadi ruang klarifikasi sekaligus penguatan komunikasi antara kalangan ulama pesantren di Madura dengan wakil rakyat di tingkat pusat. Forum ini juga menindaklanjuti pernyataan Habib Abu Bakar Al Habsyi dalam rapat Komisi III DPR RI yang sebelumnya menuai perhatian publik. 

Dalam pernyataan resmi yang dibacakan di hadapan peserta, Habib Abu Bakar Al Habsyi menyampaikan klarifikasi serta permohonan maaf secara terbuka atas kekhilafan dalam penyampaiannya terkait isu peredaran narkoba di Madura.

Para ulama yang hadir menerima permohonan tersebut dengan sikap terbuka sebagai bentuk penyelesaian yang mengedepankan ukhuwah dan keharmonisan.

Tuan rumah sekaligus tokoh ulama Bangkalan, KH Imam Bukhori, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Habib Abu Bakar Al Habsyi atas kepeduliannya terhadap lingkungan pesantren, khususnya dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman narkoba.

“Terima kasih kepada Habib Abue yang telah mengingatkan para ulama pesantren agar senantiasa waspada terhadap ancaman narkoba yang saat ini semakin meresahkan,” ujar KH Imam Bukhori.

Ia menegaskan, pesantren memiliki peran strategis sebagai benteng moral generasi muda. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap berbagai ancaman sosial, termasuk narkoba, harus diperkuat melalui sinergi antara ulama, pemerintah, dan aparat penegak hukum.

Sementara itu, KH Muhammad Aunul Abied Syah menilai pertemuan tersebut sebagai langkah penting dalam menjaga marwah pesantren sekaligus memperkuat peran ulama dalam merespons persoalan sosial.

“Pertemuan ini menunjukkan bahwa setiap persoalan dapat diselesaikan melalui tabayyun dan musyawarah. Ulama memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kehormatan lembaga pendidikan Islam, sekaligus menjadi mitra strategis dalam menyelesaikan persoalan bangsa,” ujarnya.

Dalam forum tersebut juga ditegaskan bahwa tidak ada niat dari pihak mana pun untuk merendahkan lembaga pesantren di Madura. Kesalahan yang terjadi lebih pada aspek substansi dan redaksional dalam penyampaian, yang dilatarbelakangi keprihatinan terhadap fenomena di lapangan.

Para ulama Bassra menyampaikan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam memerangi peredaran narkoba yang dinilai menjadi ancaman serius bagi generasi muda. Sinergi antara ulama, masyarakat, dan pemerintah dinilai menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang bersih dari narkotika.

Habib Abu Bakar Al Habsyi dalam kesempatan tersebut menyatakan kesiapan untuk memperkuat kerja sama dengan kalangan ulama, khususnya dalam mendorong regulasi yang lebih tegas terkait pemberantasan narkotika dan psikotropika. Ia juga menegaskan komitmennya dalam mendukung penegakan hukum yang konsisten di lapangan.

“Peran ulama sangat penting dalam membangun kesadaran masyarakat. Sinergi ini diharapkan menjadi kekuatan besar dalam melawan peredaran narkoba yang semakin kompleks,” kata Habib Abu Bakar Al Habsyi.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Para tokoh yang hadir sepakat bahwa polemik yang sempat mencuat harus menjadi pelajaran bersama untuk memperkuat komunikasi ke depan.

Bagi kalangan pesantren di Madura, forum ini tidak hanya menjadi ajang klarifikasi, tetapi juga momentum untuk mempertegas posisi ulama sebagai penjaga moral masyarakat. Di tengah berbagai tantangan sosial, peran pesantren dinilai semakin strategis dalam membentuk karakter generasi muda.

Kehadiran KH Muhammad Aunul Abied Syah juga mencerminkan keterlibatan aktif ulama Sampang dalam dinamika sosial keagamaan di tingkat regional Madura, sekaligus memperkuat jaringan komunikasi antar pesantren dalam menghadapi berbagai isu aktual.

Melalui kesepakatan yang dihasilkan dalam pertemuan ini, diharapkan hubungan antara ulama dan pemerintah semakin solid serta mampu menghadirkan solusi konkret, khususnya dalam upaya pemberantasan narkoba di Madura.*