Dari Gunungan hingga Tabung Gas Cerita Unik Maulid Nabi di Nusantara
Jatiminvestigasinews.id, Sampang - Maulid Nabi Muhammad SAW bukan hanya perayaan keagamaan, melainkan juga tradisi budaya yang terus hidup dari masa ke masa. Setiap tahun, momentum kelahiran Nabi ini menghadirkan nuansa syukur, cinta, dan kebersamaan yang mengakar di tengah masyarakat Islam. Dari kemegahan istana di masa lampau hingga kesederhanaan di desa-desa, Maulid selalu punya cara unik untuk bercerita.
Tradisi Maulid diyakini mulai berkembang pada abad ke-12 Masehi di Mesir pada masa Dinasti Ayyubiyah. Kala itu, perayaan diadakan secara resmi dengan pembacaan syair, qasidah, dan doa bersama. Ulama menilai Maulid bukan sekadar pesta, melainkan media dakwah yang menyentuh hati umat. Dari Mesir, tradisi ini menjalar ke Asia Selatan hingga kepulauan Nusantara.
Jejak Maulid di Indonesia erat kaitannya dengan peran Wali Songo. Para ulama menjadikan Maulid sebagai pintu dakwah, disesuaikan dengan budaya lokal agar lebih diterima masyarakat.
Di Jawa, Keraton Yogyakarta dan Surakarta memeriahkan Grebeg Maulud dengan gunungan hasil bumi yang diarak keliling. Di Aceh, masyarakat mengenal Khanduri Maulid dengan kenduri besar di masjid-masjid. Sedangkan di Madura, peringatan Maulid menampilkan warna khas melalui shalawatan dan tradisi onjengan yang tak pernah sepi peminat.
Bulan Maulid di Madura identik dengan kegiatan shalawatan dari rumah ke rumah. Lantunan kitab Barzanji, Diba’, hingga Simtudduror berpadu doa bersama, menghadirkan suasana religius sekaligus hangat. Semua dilakukan dengan penuh cinta kepada Rasulullah SAW.
Yang paling unik adalah onjengan atau kenduri Maulid. Di sini, tuan rumah menyiapkan hidangan dan berkat untuk dibagikan kepada tamu. Namun, berkat di Madura tidak hanya berupa makanan. Ada yang pulang membawa sarung, wajan, kipas angin, beras 10 kilogram, bahkan tabung gas elpiji 3 kilogram bahkan ayam satu ekor. Bagi masyarakat, ini adalah simbol berbagi sekaligus kenangan dari peringatan yang mereka ikuti.
Persiapan onjengan biasanya melibatkan keluarga, tetangga, dan kerabat. Hal ini menciptakan suasana gotong royong yang menguatkan ikatan sosial. Memberikan berkat dipandang sebagai sedekah, sementara menerima berkat dianggap sebagai keberkahan.
Dengan demikian, Maulid di Madura tidak hanya menghidupkan nilai spiritual, tetapi juga mengajarkan solidaritas dan kepedulian sosial.
Kini, peringatan Maulid bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi. Pengajian dan tausiyah banyak dilakukan secara daring, memungkinkan jamaah lebih luas untuk berpartisipasi. Meski begitu, tradisi shalawatan dan pembagian berkat tetap menjadi inti perayaan di kampung-kampung.
Perubahan zaman tidak mampu menghapus ruh Maulid, karena ia telah melekat sebagai warisan budaya sekaligus wujud cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Apapun bentuk perayaannya, Maulid Nabi selalu mengingatkan umat agar meneladani akhlak Rasulullah SAW. Dari gunungan hasil bumi di Jawa hingga tabung gas dalam onjengan Madura, semuanya berujung pada semangat berbagi, menebarkan kasih sayang, dan berharap memperoleh syafaat Nabi di akhirat kelak.*
(Beny)
Editor : Sarbaini