Polsek Jrengik Takziah ke Rumah Duka Santri Ponpes Al Qhozini Buduran Sidoarjo

avatar jatiminvestigasinews.id
  • URL berhasil dicopy

Jatiminvestigasinews.id, Sampang – Suasana duka mendalam menyelimuti Dusun Tekalong, Desa Majangan, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang, Selasa (30/9/2025). Ratusan warga berkumpul di rumah pasangan Martuki dan Rumi untuk melepas kepergian putra mereka, Muhammad Mashudulhaq (14), seorang santri Pondok Pesantren Al Qhozini Buduran, Sidoarjo, yang meninggal dunia saat masih menempuh pendidikan di kelas VIII SMP.

Kabar wafatnya Mashudulhaq pertama kali terdengar pada Selasa subuh sekitar pukul 04.00 WIB. Berita itu segera menyebar hingga ke kampung halamannya di Desa Majangan, membawa kesedihan yang begitu dalam bagi keluarga, kerabat, serta warga sekitar.

Sekitar pukul 11.45 WIB, Kapolsek Jrengik, AKP Sunarno, S.H., bersama jajarannya datang langsung ke rumah duka. Kedatangan mereka disambut penuh keharuan oleh keluarga dan masyarakat yang sudah berkumpul sejak pagi.

Turut mendampingi Kapolsek Jrengik, Aiptu Buhari selaku PS. Kanit Provos, Aiptu Muh. Hardiyanto sebagai Ps. Panit Intelkam, dan Serda Nugroho, Babinsa Desa Majangan. Kehadiran aparat kepolisian dan TNI tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian dan empati terhadap keluarga almarhum.

“Kami ikut merasakan duka mendalam atas kepergian ananda Mashudulhaq. Semoga almarhum husnul khatimah, diterima segala amal ibadahnya, serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ujar AKP Sunarno di sela-sela takziah.

Almarhum Mashudulhaq lahir dari pasangan Martuki (53) dan Rumi (45). Ayah dan ibunya sehari-hari bekerja sebagai pekerja swasta. Sejak dua tahun terakhir, Mashudulhaq menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Al Qhozini Buduran, Sidoarjo.

Dikenal pendiam dan rajin, Mashudulhaq memiliki semangat besar untuk menuntut ilmu. Kepergiannya secara tiba-tiba meninggalkan duka yang begitu mendalam. “Dia anak yang baik, sopan, dan selalu menunjukkan rasa hormat pada orang tua maupun tetangga. Kami semua kehilangan,” ucap salah seorang tetangga dengan mata berkaca-kaca.

Jenazah Mashudulhaq tiba di rumah duka sekitar pukul 10.00 WIB. Tangis keluarga dan kerabat pecah saat menyambut kedatangannya. Warga bersama-sama membantu menyiapkan keperluan pemakaman, mulai dari liang lahat hingga tenda pelayat.

Sekitar pukul 12.30 WIB, jenazah dimakamkan di pemakaman umum Dusun Tekalong. Prosesi pemakaman berlangsung khidmat, diiringi doa dari ratusan pelayat yang hadir. Suasana haru kian terasa ketika orang tua almarhum menabur bunga di pusara putra tercinta.

Musibah ini tidak hanya menjadi duka bagi keluarga, melainkan juga bagi masyarakat Desa Majangan. Sejak pagi, warga bergotong royong membantu prosesi pemakaman. Ada yang menyiapkan hidangan untuk pelayat, ada pula yang membantu mengatur jalannya prosesi agar berlangsung lancar.

Solidaritas warga kian terasa dengan hadirnya jajaran Polsek Jrengik dan Babinsa Majangan. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa aparat bukan hanya hadir dalam penegakan hukum, tetapi juga dalam memberi dukungan moral kepada masyarakat yang sedang dirundung duka.

Bagi keluarga Martuki, kepergian Mashudulhaq adalah cobaan berat. Namun doa dan perhatian dari masyarakat serta aparat memberikan kekuatan untuk menerima takdir dengan ikhlas.

“Kami ikhlas melepas kepergian anak kami. Terima kasih kepada semua pihak, terutama warga dan jajaran Polsek Jrengik yang sudah hadir memberi doa dan penghiburan. Semoga doa-doa ini menjadi penerang bagi anak kami di alam sana,” tutur Martuki dengan suara terbata.

Tokoh agama yang memimpin salat jenazah pun menyampaikan pesan mendalam. “Usia tidak bisa ditebak. Kematian adalah kepastian. Mari kita jadikan peristiwa ini pengingat untuk memperbanyak amal kebaikan. InsyaAllah almarhum diterima di sisi-Nya,” ujarnya.

Kini, almarhum Mashudulhaq telah dimakamkan. Meski jasadnya telah berpulang, namun doa dan kenangan tentang dirinya akan tetap hidup di hati keluarga, teman-teman, dan masyarakat Desa Majangan. Musibah ini sekaligus mengajarkan arti kebersamaan, empati, dan pentingnya ikhlas menerima takdir.*