PWNU Bali, Bersama Pangdam IX Udayana
Jatiminvestigasinews.id, Bali - Pulau surga yang penuh ketenangan dan spiritualitas, kini siap menyambut sebuah acara yang lebih meriah dari pada pesta pantai: peringatan Harlah ke-102 NU. Acara yang katanya penuh dengan nilai keagamaan dan kerja sosial ini memang bikin penasaran, apalagi setelah mendengar cerita-cerita menarik dari pertemuan antara Ketua PWNU Bali, KH Abd. Aziz, dan Pangdam IX/Udayana, Mayjen Muhammad Zamroni. Nah, mari kita bahas dengan gaya sarkastik santai, karena siapa bilang bicara soal agama dan sosial itu harus kaku?
KH Abd. Aziz memulai pertemuan dengan ucapan terima kasih, salam kenal, dan perkenalan panitia.Ya, seperti biasa, kalimat-kalimat pembuka yang sudah hafal di luar kepala. Namun, jangan salah, ini bukan sekadar basa-basi. NU, katanya, bergerak di berbagai bidang, terutama keagamaan. Tapi, kali ini fokus mereka adalah Harlah NU ke-102, yang akan diadakan di Bali. Dan mereka dengan sopan memohon dukungan, karena, ya, siapa yang tidak ingin dibantu untuk acara sebesar ini, kan?
Ketua panitia Dr. H. Mahmudi, MA. juga dengan yakin menyampaikan bahwa acara puncaknya akan digelar pada 11 Februari di Masjid Al-Ihsan Sanur. Kegiatan yang direncanakan pun cukup variatif ada donor darah, kajian kitab kuning, dan olahraga berama lembaga otonom. Hmm, kombinasi yang unik, ya? Dari menyumbang darah, belajar agama, hingga mungkin main futsal. Benar-benar paket lengkap ala NU!
Pangdam IX Udayana suka bercanda tapi serius, ala NU walaupun juga sering pakai Selarung (celana dan sarung ala Jogja)

Di sinilah cerita menjadi lebih menarik. Mayjen Muhammad Zamroni, Pangdam IX/Udayana yang lahir di Jambi, langsung mencairkan suasana dengan candaannya. Beliau, dengan senyum khas, melontarkan komentar tentang wajah teman-teman panitia. “Kok wajahnya nggak ada yang mirip orang asli Bali, ya?” Hahaha, tepuk tangan untuk komentar yang 100�nar tapi tetap bikin geli.
Tapi jangan salah, Pangdam juga menunjukkan kecerdasannya. Ketika ditanya soal hubungan NU dan Muhammadiyah, beliau dengan santai menjawab bahwa keduanya saling melengkapi. Orang NU ingin belajar kampus, orang Muhammadiyah ingin belajar pesantren. Nah, kalau itu bukan wujud persatuan, entah apa lagi.
Dan yang lebih menarik, Pangdam ternyata penggemar Gus Baha! “Cerdas sekali Gus Baha itu,” ujarnya dengan penuh kekaguman. Ketua PWNU pun menimpali, “Alhamdulillah, di NU banyak cendekiawan muda yang siap mengabdi.” Ya, begitulah NU, selalu punya stok tokoh yang bikin kita ternganga.
Uniknya Pangdam IX Udayana suka paka Selarung dan ternak bebek dan lele sebagai eksprimen.
Di sela-sela pembicaraan serius, Pangdam juga berbagi cerita soal hobinya yang bisa dibilang… tidak biasa. Ternyata beliau suka memakai selarung (campuran celana dan sarung). Katanya, ini solusi terbaik bagi mereka yang ingin terlihat islami tapi tetap gesit. Lalu, siapa sangka, seorang Pangdam juga doyan eksperimen! Di rumahnya, beliau memelihara ikan lele di kolam karet dan memberi makan ikan-ikan itu dengan sampah daur ulang. “Jangan sampai beli makanan ikan,” katanya. Wah, hemat dan ramah lingkungan, bukan?
Satu pernyataan Pangdam yang cukup membuat panitia tersenyum simpul adalah, “NU kan nggak politik, tapi NU di mana-mana ada!” Ini bukan sindiran, ya, cuma pengingat halus bahwa NU selalu menjadi bagian dari masyarakat, bahkan di wilayah-wilayah yang tidak diduga. Dan Pangdam, dengan gaya santainya, mengajak Ansor untuk bergabung membersihkan pantai. Kalau ini bukan bukti kerja sama lintas bidang, lalu apa lagi?
Jadi, apa kesimpulan dari cerita ini? Harlah ke-102 NU di Bali bukan hanya sekadar acara seremonial. Di balik semua formalitas, candaan, dan eksperimen lele, ada pesan penting, keberagaman adalah kekuatan.
Dan jangan lupa, kalau Anda di Bali pada 11 Februari nanti, jangan lewatkan kesempatan untuk ikut kegiatan ini. Siapa tahu, sambil donor darah atau main futsal, Anda bisa belajar satu dua hal tentang pesantren atau bahkan cara memelihara lele ala Pangdam.Selamat berjuang, jaga kesehatan.
(Bambang)
Editor : Siti