‎Ulama BASSRA Bangun Citra Madura Lewat Edukasi, Ekonomi, dan Narasi Positif ‎

avatar Bang Priyo
  • URL berhasil dicopy
Sejumlah ulama mengikuti diskusi Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura di PLN UIN Surabaya tentang peran pesantren dan citra Madura/Istimewa/Bn.
Sejumlah ulama mengikuti diskusi Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura di PLN UIN Surabaya tentang peran pesantren dan citra Madura/Istimewa/Bn.

‎Jatiminvestigasinews.id, Surabaya — Upaya kolektif ulama pesantren Madura dalam memperkuat citra daerah sekaligus mendorong perubahan pola pikir masyarakat kembali ditegaskan dalam forum Halal Bihalal dan Bedah Buku Sejarah BASSRA Potret Perjuangan Ulama Madura yang digelar di PLN UIN Surabaya, 10 April 2026.

‎Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi peran ulama sebagai penjaga nilai moral dan aktor sosial yang adaptif terhadap dinamika zaman.

‎Forum yang diinisiasi Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura (BASSRA) tersebut menghadirkan narasumber lintas sektor. Di antaranya Prof Dr KH Imam Ghazali Said Guru Besar Sejarah Pemikiran Islam Klasik UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr KH Muhamad Aunul Abied Shah pengasuh Pondok Pesantren Darus Salam Torjun Sampang, Ahmad Mustaqir dari PLN UID Jawa Timur, serta Dr Adam Muhshi pakar Hukum Tata Negara Universitas Airlangga.

‎Koordinator Pusat BASSRA RKH Muhammad Rofiie Baidhowi menyampaikan bahwa forum ini tidak sekadar agenda silaturahmi, melainkan bagian dari ikhtiar membangun kesadaran kolektif masyarakat Madura agar lebih terbuka, progresif, dan berdaya saing.

‎“Ulama pesantren tidak hanya berperan dalam menjaga tradisi keilmuan dan spiritualitas, tetapi juga harus hadir menjawab tantangan sosial, termasuk persoalan citra dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

‎Dalam diskusi yang berlangsung dinamis, para narasumber menyoroti kuatnya stigma negatif terhadap Madura yang kerap beredar di ruang publik. Citra masyarakat Madura yang sering dilekatkan dengan kekerasan atau kesan tertinggal dinilai tidak mencerminkan realitas secara utuh.

‎Padahal, Madura dikenal memiliki jaringan pesantren yang luas, tradisi keagamaan yang kuat, serta kontribusi signifikan dalam pendidikan dan pembentukan karakter masyarakat.

‎Dr KH Muhamad Aunul Abied Shah menegaskan pentingnya membangun narasi tandingan yang lebih berimbang.

‎“Perlu ada upaya sistematis menghadirkan informasi positif tentang Madura. Pesantren adalah pusat peradaban, bukan seperti stigma yang berkembang,” tegasnya.

‎BASSRA pun mendorong lahirnya gerakan penyebaran informasi positif yang menampilkan praktik pendidikan pesantren, kehidupan spiritual masyarakat, serta berbagai capaian warga Madura di berbagai bidang.

‎Tidak hanya bergerak di ranah kultural, BASSRA juga aktif dalam advokasi ekonomi masyarakat. Selama ini, organisasi tersebut dikenal konsisten memperjuangkan kepentingan petani garam dan tembakau agar memperoleh sistem tata niaga yang lebih adil.

‎Langkah konkret juga dilakukan melalui penguatan gagasan Kawasan Ekonomi Khusus Tembakau Madura. Inisiatif ini ditempuh melalui kajian akademik, pengawalan regulasi, serta komunikasi intensif dengan pemerintah daerah hingga tingkat provinsi.

‎Upaya tersebut dipandang sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi ekonomi Madura secara struktural dan berkelanjutan.

‎Di sisi lain, BASSRA juga terlibat dalam wacana pembentukan Provinsi Madura serta mendorong pembentukan Kotamadya Pamekasan. Sejumlah dukungan administratif dari pemerintah daerah dan legislatif telah menguatkan langkah tersebut.

‎Sejak berdiri pada awal 1990 an, BASSRA menegaskan komitmennya menggunakan pendekatan dialogis dan persuasif dalam menyikapi persoalan sosial maupun kebijakan publik.

‎Sikap ini kembali ditegaskan dalam forum, termasuk dalam merespons isu yang berkembang akibat pernyataan oknum anggota DPR yang menuding pesantren Madura sebagai pusat peredaran narkoba.

‎Para ulama menilai tuduhan tersebut tidak berdasar dan berpotensi merusak marwah pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pembinaan moral.

‎“Pesantren adalah benteng akhlak. Tuduhan seperti itu harus diluruskan dengan cara yang bijak dan argumentatif,” ujar salah satu narasumber.

‎Kegiatan ini dihadiri ulama dari berbagai kabupaten di Madura yang tergabung dalam BASSRA. Dari Bangkalan hadir KH Imam Bukhori Kholil AG dan KH Makki Nashir. Dari Sampang hadir KH Syafiuddin Abdul Wahed bersama KH Mahrus Malik. Sementara dari Pamekasan hadir RKH Mudatsir Badruddin dan KH Ali Rahbini, serta dari Sumenep hadir Dr KH Ahmad Fauzi Tidjani dan KH Busyro Karim.

‎Kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan kuatnya jejaring ulama pesantren dalam satu barisan perjuangan.

‎Melalui forum ini, BASSRA menegaskan bahwa perjuangan ulama Madura tidak berhenti pada aspek keagamaan semata, tetapi juga mencakup transformasi sosial, penguatan ekonomi, serta pembangunan citra daerah yang lebih positif.

‎Dengan pendekatan yang responsif dan berorientasi pada kemaslahatan bersama, BASSRA optimistis mampu menjadi motor penggerak perubahan menuju Madura yang lebih maju dan bermartabat.


( Iebenk)