Jejak Darah di Camplong, Polisi Temukan Petunjuk Baru di Balik Dua Selongsong Peluru

avatar jatiminvestigasinews.id
  • URL berhasil dicopy

Jatiminvestigasinews.id, Sampang — Kasus penganiayaan berdarah di SPBU Camplong, Kabupaten Sampang, Madura, yang melibatkan senjata tajam dan dugaan senjata api, kini memasuki babak baru. Setelah mengamankan dua selongsong peluru dari lokasi kejadian, penyidik Polres Sampang menemukan petunjuk penting yang diduga mengarah pada pelaku utama penembakan.

Peristiwa yang terjadi pada Senin pagi (20/10/2025) itu meninggalkan trauma mendalam di mata warga dan karyawan SPBU. Korban bernama Hairuddin (29) masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Mohammad Zyn Sampang akibat luka bacok serius di tubuhnya. Namun di balik penderitaan itu, polisi mulai merangkai teka-teki siapa dalang di balik aksi sadis tersebut.

Sumber internal kepolisian menyebut, dua selongsong peluru yang ditemukan di lokasi SPBU telah dikirim ke laboratorium forensik untuk diperiksa lebih lanjut. Hasil identifikasi awal menunjukkan, peluru tersebut berjenis kaliber kecil, lazim digunakan pada senjata api rakitan atau pistol modifikasi.

“Dari bentuk dan ukurannya, kuat dugaan ini bukan senjata standar militer. Kami masih menunggu hasil uji balistik dari laboratorium,” ungkap salah satu anggota penyidik yang enggan disebut namanya, Rabu (22/10/2025).

Penemuan itu memperkuat dugaan bahwa para pelaku tak hanya membawa celurit untuk menganiaya korban, tetapi juga memiliki senjata api ilegal. Polisi kini fokus melacak asal-usul senjata tersebut serta keterlibatan jaringan yang mungkin menyelundupkannya ke wilayah Sampang.

Sementara itu, Plh. Kasi Humas Polres Sampang, AKP Eko Puji Waluyo, mengonfirmasi bahwa penyidik telah mengantongi identitas salah satu pelaku berinisial M, yang diduga kuat menjadi dalang dalam aksi penyerangan.

“Kami sudah mengetahui siapa yang terlibat. Tim gabungan Polres Sampang dan Polsek Camplong saat ini melakukan pengejaran. Mohon dukungan masyarakat agar pelaku segera tertangkap,” ujarnya.

Dari rekaman CCTV yang telah dianalisis, M terlihat memimpin dua rekannya dalam aksi pengeroyokan di area SPBU. Salah satu dari mereka diyakini membawa senjata api dan menembakkan peluru ke arah korban, namun tidak mengenai sasaran.

Kondisi korban hingga kini belum menunjukkan perkembangan signifikan. Dokter RSUD dr. Mohammad Zyn menyebut, Hairuddin mengalami luka bacok cukup dalam di bagian punggung dan tangan akibat berusaha menangkis serangan celurit.

“Kondisinya masih lemah. Kami fokus pada pencegahan infeksi dan pemulihan pascaoperasi,” kata salah satu perawat ruang ICU yang menangani korban.

Pihak keluarga korban pun berharap kepolisian tidak hanya menindak pelaku, tetapi juga memberi perlindungan karena muncul kekhawatiran akan adanya ancaman lanjutan.

“Kami takut kalau pelaku belum tertangkap. Korban hanya pegawai SPBU, tidak punya musuh. Tolong pelakunya segera ditangkap,” pinta salah satu keluarga korban dengan mata berkaca-kaca.

Sejak kejadian, aktivitas di SPBU Camplong tampak lebih sepi dari biasanya. Beberapa warga mengaku masih enggan mengisi bahan bakar di lokasi tersebut karena khawatir dengan situasi keamanan.

“Biasanya ramai tiap pagi, tapi sekarang lengang. Orang takut, apalagi dengar ada tembakan waktu itu,” ujar Rafiuddin, warga sekitar.

Pihak kepolisian kini menempatkan personel pengamanan di sekitar SPBU untuk mencegah insiden serupa dan menenangkan warga.

Meski lokasi kejadian sudah dipasangi garis polisi, aroma ketegangan masih terasa di sekitar area tersebut. Setiap orang yang melintas menoleh ke arah bekas tumpahan darah yang mulai memudar di lantai semen dekat pompa bensin.

SPBU yang biasanya menjadi tempat persinggahan kendaraan, kini menjadi saksi bisu kekerasan yang nyaris merenggut nyawa seorang pekerja muda.

Polisi berjanji akan terus mengembangkan penyelidikan hingga menemukan motif di balik penyerangan. Dugaan sementara, insiden itu dipicu oleh perselisihan pribadi yang berujung pada aksi balas dendam bersenjata.

Kasus SPBU Camplong kini menjadi sorotan luas di Madura. Dua selongsong peluru yang ditemukan di tanah mungkin terlihat sepele, namun bagi penyidik, benda kecil itu adalah kunci pembuka menuju keadilan.

Sementara masyarakat menanti akhir dari kisah ini, satu harapan tetap menggantung di udara: agar suara tembakan di SPBU Camplong menjadi yang terakhir, dan tidak lagi bergema di langit Sampang yang damai.*