Murid Jrengik Tulis Menu di Ompreng, SPPG Hadirkan Hidangan Sehat yang Bikin Anak Semangat

avatar jatiminvestigasinews.id
  • URL berhasil dicopy

Jatiminvestigasinews.id, Sampang – Suasana berbeda terasa di sejumlah lembaga pendidikan di Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang, Kamis (2/10/2025). Program Satuan Pemenuhan Pangan Gizi (SPPG) yang selama ini berjalan rutin, kali ini menghadirkan inovasi baru: menu makanan bergizi disusun berdasarkan aspirasi siswa yang ditulis di selembar kertas dan diselipkan ke dalam ompreng atau tray makanan.

Ide sederhana itu ternyata membawa antusiasme luar biasa. Anak-anak bukan hanya menyantap hidangan dengan lahap, tetapi juga merasa dilibatkan dalam menentukan makanan yang mereka sukai. Dari aspirasi itulah lahir menu unik: nasi daun jeruk dengan lauk empal daging, tempe goreng renyah, sambal pedas manis, serta buah naga segar sebagai pencuci mulut.

Kepala Administrasi SPPG, Abdurrahman Wahid, S.Kep, menilai langkah ini mampu meningkatkan selera makan anak-anak. “Kami mengikuti pesanan mereka, tapi tetap memastikan standar gizi tidak ditinggalkan. Jadi, antara keinginan anak-anak dan kebutuhan nutrisi bisa berjalan beriringan,” jelasnya.

Menurutnya, keterlibatan langsung siswa bukan sekadar formalitas. Dengan cara ini, murid merasa dihargai dan lebih bersemangat menyantap makanan sehat. Ia menyebut, pendekatan partisipatif tersebut akan menjadi strategi baru dalam menjaga konsistensi keberhasilan program pangan bergizi di sekolah-sekolah.

Program SPPG di Kecamatan Jrengik pada periode ini berhasil menjangkau 3.115 penerima manfaat yang tersebar di 35 lembaga pendidikan. Rinciannya: PAUD/KB/RA sebanyak 666 anak, TK 48, SD/MI 1.081 siswa, SMP 163, dan SMK 62 siswa.

Tak berhenti pada siswa, kelompok rentan juga menjadi fokus utama. Data menunjukkan, 621 balita, 126 ibu hamil, serta 348 ibu menyusui ikut menerima paket makanan bergizi. Kehadiran program ini dinilai selaras dengan upaya pemerintah dalam menekan angka stunting yang masih menjadi tantangan serius di Madura.

Salah satu hal yang menarik, meski tidak tercantum dalam anggaran resmi, sekitar 200 guru di 35 lembaga pendidikan juga ikut mendapatkan makanan bergizi. Kebijakan itu menjadi bentuk penghargaan atas peran besar tenaga pendidik yang setiap hari mendampingi anak-anak.

Azizah, seorang guru yang mengajar di salah satu lembaga penerima manfaat, menyampaikan apresiasinya. “Kami ikut merasakan manfaat besar dari program ini. Makanan bergizi membantu menjaga energi saat mengajar. Terima kasih kepada yayasan dan dapur penyalur yang juga memperhatikan kebutuhan guru,” ungkapnya dengan senyum penuh syukur.

Ketua Yayasan Kolaborasi Ekosistem Masyarakat, Dapur Sehat Dalila Catering, H. Ulum, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah porsi yang dibagikan, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat. “Kami ingin memastikan setiap sajian benar-benar bermanfaat. Program ini hadir bukan sekadar mengenyangkan perut, tetapi juga ikhtiar membangun generasi sehat dan kuat,” tegasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi antara dapur sehat, tenaga gizi, dan keterlibatan siswa merupakan kunci utama menjaga kualitas program. Dengan pola ini, anak-anak tidak hanya terbiasa makan sehat, tetapi juga belajar bahwa nutrisi penting bagi masa depan mereka.

Dalam skala yang lebih luas, program SPPG diharapkan menjadi solusi nyata dalam menurunkan angka stunting di Kabupaten Sampang. Data dari Dinas Kesehatan menunjukkan prevalensi stunting di beberapa kecamatan masih cukup tinggi, termasuk Jrengik. Melalui pendekatan edukatif berbasis makanan bergizi, anak-anak diarahkan untuk terbiasa mengonsumsi menu seimbang sejak dini.

Abdurrahman Wahid menuturkan, pihaknya terus melakukan evaluasi gizi pada setiap menu yang disajikan. “Kami selalu memastikan ada keseimbangan karbohidrat, protein, sayuran, dan buah. Inovasi dengan melibatkan siswa bukan berarti melepas standar gizi, justru menjadi cara agar mereka lebih terbiasa mengonsumsi makanan sehat,” jelasnya.

Keterlibatan murid dalam menentukan menu, tambahan perhatian untuk guru, serta fokus pada kelompok rentan, menjadi kombinasi yang dinilai mampu memperkuat efektivitas program. Tidak hanya sekadar membagikan makanan, tetapi menciptakan gerakan sosial yang berdampak luas.

H. Ulum pun berharap model distribusi pangan bergizi ini bisa dicontoh oleh daerah lain. “Kami berharap langkah kecil ini bisa menginspirasi, sehingga pangan bergizi bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat, bukan hanya di Jrengik, tetapi juga di berbagai wilayah lainnya,” pungkasnya.

Program SPPG di Kecamatan Jrengik memperlihatkan bahwa inovasi sederhana dapat membawa dampak besar. Dari ompreng yang menjadi media aspirasi anak, hingga kebijakan berbagi makanan dengan guru, semua berpadu menjadi bukti bahwa kepedulian dan keterlibatan bersama adalah kunci menghadirkan perubahan nyata.*