Mengenal Sosok KH Idham Chalid, Haramkan Keluarganya Memakai Fasilitas Negara

avatar jatiminvestigasinews.id
  • URL berhasil dicopy

Jatiminvestigasinews.id. Sampang - KH Idham Chalid adalah salah satu tokoh bangsa yang namanya tercatat dalam sejarah Indonesia, bukan hanya sebagai ulama besar tetapi juga negarawan yang berpegang teguh pada prinsip moral.

Beliau dikenal luas karena sikapnya yang sederhana, rendah hati, serta keteguhan dalam menjaga marwah jabatan publik.

Di tengah banyaknya pejabat yang kerap terjebak pada godaan fasilitas negara, KH Idham Chalid justru tampil berbeda.

Ia menegaskan kepada keluarga besarnya untuk tidak pernah menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi.

Bagi KH Idham Chalid, amanah jabatan adalah titipan rakyat yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab, bukan sarana untuk mencari kenyamanan diri maupun keluarga.

Sikap tegas itu lahir dari pandangan beliau bahwa jabatan merupakan sarana pengabdian, bukan alat untuk memperkaya diri.

Ketika menjabat sebagai Ketua DPR, Wakil Perdana Menteri, hingga Ketua MPR/DPR, KH Idham Chalid tetap menjaga kesederhanaan.

Rumahnya tidak megah, mobilnya pun bukan kendaraan mewah, dan keluarganya diajarkan untuk hidup sebagaimana rakyat pada umumnya.

KH Idham Chalid lahir di Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921. Sejak muda, ia sudah menunjukkan kecerdasan dan kecintaan pada ilmu agama.

Ia kemudian menempuh pendidikan di Pesantren Gontor dan terlibat aktif dalam gerakan Nahdlatul Ulama (NU).

Karier politiknya cukup gemilang. KH Idham Chalid pernah menjadi Ketua Umum PBNU, menteri di beberapa kabinet, hingga Ketua DPR/MPR RI.

Meski berada di lingkaran kekuasaan, ia tetap menjaga independensi dan tidak larut dalam gemerlap fasilitas yang melekat pada jabatan.

Keputusan beliau untuk “mengharamkan” keluarganya menikmati fasilitas negara menjadi teladan yang jarang ditemui. Prinsip itu menunjukkan betapa beliau menempatkan jabatan sebagai tanggung jawab, bukan hak istimewa.

Kini, puluhan tahun setelah kepergiannya pada 11 Juli 2010, nama KH Idham Chalid masih harum dikenang. Banyak kalangan menilai sikapnya yang melarang keluarga menggunakan fasilitas negara merupakan contoh nyata integritas seorang pemimpin.

Di era sekarang, ketika isu penyalahgunaan fasilitas negara kerap mencuat, teladan KH Idham Chalid seolah hadir sebagai pengingat.

Bahwa sejatinya seorang pemimpin adalah pelayan rakyat, dan keluarganya pun harus menjaga batas agar tidak terlibat dalam privilege yang bukan haknya.

Bagi bangsa Indonesia, KH Idham Chalid bukan hanya sekadar tokoh NU atau pejabat negara. Ia adalah simbol kesederhanaan, amanah, dan integritas.

Sikap tegasnya terhadap keluarganya membuktikan bahwa pengabdian kepada rakyat dan negara tidak boleh tercampur dengan kepentingan pribadi.

(Beny)