Jatiminvestigasinews.id, Timor Tengah Selatan - Kesaksian sopir ambulans UPT Puskesmas Panite berinisial AM membuka sejumlah pertanyaan baru terkait penanganan almarhum Gustaf Nabuasa saat membutuhkan rujukan ke rumah sakit di Soe.pada hari minggu (30/8/2026)
AM tidak hanya membantah dirinya pernah diperiksa sebagaimana disebut dalam klarifikasi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), tetapi juga memberikan keterangan berbeda mengenai kondisi dan penggunaan ambulans pada hari Gustaf membutuhkan pertolongan.
Baca juga: Hukum Harus Tegak untuk Semua, Bukan Bergantung pada Jabatan
Menurut AM, pada pagi hari sebelum peristiwa tersebut, seluruh petugas mengikuti briefing di puskesmas. Ia mengaku dalam kondisi kurang sehat karena memiliki riwayat tekanan darah tinggi dan sebelumnya kurang tidur.
Saat itu, AM seharusnya mengantar spesimen dahak ke Puskesmas Kualin. Namun karena kondisi tubuhnya tidak memungkinkan, ia meminta rekannya bernama Rian untuk menggantikannya.
Persoalan muncul karena, menurut AM, perjalanan pengantaran spesimen tersebut berlangsung lebih lama dari biasanya. Padahal, ia mengaku sudah terbiasa melakukan perjalanan tersebut dan mengetahui waktu tempuh normalnya.
“Biasa antar begitu sonde lama. Beta yang biasa antar. Tapi waktu itu dong pi talalu lama,” ujar AM.
Keterangan ini menjadi salah satu bagian yang menurut AM tidak sesuai dengan gambaran yang disampaikan dalam klarifikasi sebelumnya. Ia menilai dirinya mengetahui kondisi kendaraan dan aktivitas ambulans karena sehari-hari bertugas sebagai sopir di UPT Puskesmas Panite.
AM kemudian menjelaskan situasi ketika Gustaf Nabuasa hendak dirujuk. Menurut dia, petugas dalam kondisi panik dan berupaya agar pasien segera mendapatkan penanganan lebih lanjut.
“Waktu mau rujuk almarhum itu katong panik. Katong pung mau harus cepat,” katanya.
Karena kebutuhan rujukan tersebut, AM mengaku kemudian membawa ambulans untuk mengantar Gustaf menuju Soe. Ia menyebut sebelumnya telah berkomunikasi agar proses rujukan dilakukan secepat mungkin.
Namun, AM mempertanyakan keputusan penggunaan kendaraan pada saat itu. Menurut dia, ambulans yang digunakan ketika Gustaf dirujuk bukan ambulans yang secara khusus digunakan untuk rujukan, melainkan ambulans penjemputan pasien.
Padahal, menurut AM, ambulans rujukan sebenarnya tersedia di UPT Puskesmas Panite. Ia menyebut kendaraan tersebut dalam kondisi baik dan hanya membutuhkan penggantian kampas serta oli.
Baca juga: Arman Tanono Mendesak Polres TTS Tangkap Pelaku Pengeroyokan di Noebeba
“Ambulans dua-duanya baik. Ambulans rujukan itu ada di puskesmas sini,” ujarnya.
Di sinilah AM melihat adanya persoalan yang menurutnya perlu dijelaskan. Ia menyebut ambulans rujukan tersebut tidak dikeluarkan karena persoalan biaya operasional, sementara kendaraan yang tersedia untuk pelayanan pasien seharusnya dipastikan siap digunakan ketika terjadi kondisi darurat.
Menurut AM, keterbatasan biaya bahan bakar juga menjadi persoalan yang sudah lama terjadi. Ia menyebut pengisian solar untuk ambulans biasanya hanya diberikan sekitar Rp100.000.
“Suruh katong isi solar sa seratus ribu, na karmana?” katanya.
AM mengaku kondisi tersebut membuat dirinya sebagai sopir merasa khawatir. Sebab, perjalanan rujukan pasien tidak selalu dapat diprediksi, sementara bahan bakar merupakan kebutuhan utama agar ambulans dapat bergerak tanpa hambatan.
Ia juga mengatakan persoalan perawatan kendaraan semestinya tidak dibiarkan berlarut-larut. Menurut dia, ambulans rujukan tersebut tidak mengalami kerusakan berat, melainkan hanya membutuhkan penggantian kampas dan oli.
Baca juga: Menguatkan Partisipasi Semesta, Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua di Kuatnana
Keterangan AM sekaligus berseberangan dengan klarifikasi Kepala Dinas Kesehatan TTS yang sebelumnya menyebut telah memeriksa lima orang terkait penanganan Gustaf, terdiri dari satu dokter, tiga perawat dan seorang sopir. AM justru menegaskan dirinya tidak pernah dipanggil untuk diperiksa.
“Beta sonde terima karena sonde sesuai fakta. Beta kan sopir di situ,” katanya.
Bagi AM, persoalan tersebut seharusnya dapat dijelaskan secara terbuka, termasuk mengapa dirinya disebut telah diperiksa jika pada kenyataannya ia merasa tidak pernah memberikan keterangan. Ia bahkan berharap pihak Dinas Kesehatan memanggilnya untuk menjelaskan langsung apa yang terjadi.
“Kalau perlu dong panggil beta supaya beta jelaskan,” ujarnya.
Lebih lanjut, AM membongkar tabiat para petugas yang selama ini menggunakan ambulans di tanpa sepengetahuan dirinya. Hal ini bagi AM menambah beban ganda manakala harus bertanggung jawab atas SK yang diberikan Bupati TTS maupun desakan bekerja seolah mekanik ketika terjadi kerusakan.
Editor : Marcel