Jatiminvestigasinews.id, Timor Tengah Selatan - Keluarga almarhum Gustaf Nabuasa meminta penyidik mengusut lebih jauh sebuah teriakan “bunuh dia” yang disebut terdengar sebelum pecahnya rangkaian kekerasan di lokasi percetakan sawah di Desa Bena, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).pada hari kamis (27/8/2026)
Teriakan tersebut menjadi perhatian keluarga karena disebut terjadi saat situasi di lokasi mulai memanas, tepat sebelum Gustaf Nabuasa akhirnya menjadi korban dalam peristiwa yang berujung pada kematiannya.
Baca juga: Korban Pengeroyokan di TTS Merasa Tidak Aman, Kuasa Hukum Minta Terduga Pelaku Tetap Ditahan
Dalam rilis yang diterima redaksi, keluarga memaparkan kembali kronologi berdasarkan informasi yang mereka peroleh. Salah satu bagian yang disoroti adalah perdebatan antara JB dan CN, yang disebut berlangsung sebelum bentrokan terjadi.
Menurut versi keluarga, sejumlah orang telah berada di lokasi lebih dahulu sebelum Gustaf dan pihak lainnya tiba. Mereka disebut membawa dokumen berupa selembar kertas yang kemudian diketahui berkaitan dengan sertifikat tanah.
Ketegangan meningkat setelah sebuah dump truck milik korban disebut ditahan oleh JB bersama istrinya. Kendaraan tersebut sebelumnya telah menurunkan material batu sebanyak lima rit di lokasi.
Persoalan kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai kegiatan sosialisasi. Dalam keterangan keluarga, JB disebut membantah pernah mengikuti kegiatan sosialisasi tersebut.
CN yang saat itu disebut menjabat sebagai kepala desa kemudian membantah pernyataan tersebut. Menurut versi keluarga, CN menyebut JB hadir dalam kegiatan sosialisasi, bahkan ditunjuk untuk menutup doa dan sempat menyampaikan pertanyaan dalam kegiatan tersebut.
Perdebatan itu kemudian berubah menjadi kontak fisik. Keluarga menyebut JB melepaskan tangannya dan menyerang CN.
CN disebut berusaha menghindar dengan mundur sambil mengangkat kedua tangan untuk melindungi wajah. Di tengah situasi tersebut, orang-orang yang berada di sekitar lokasi mulai bergerak.
Keluarga menyebut AT kemudian berusaha menghentikan serangan dengan memeluk JB dari belakang. Akibatnya, JB terjatuh dalam posisi duduk di tanah.
Menurut keterangan yang disampaikan keluarga, pada saat JB berada dalam posisi tersebut, EB yang disebut sebagai istri JB bersama istri salah satu tersangka berada di sekitar lokasi.
Keduanya disebut kemudian meneriakkan kalimat yang sama berulang kali: “Bunuh dia.”
Bagi keluarga Nabuasa, teriakan tersebut bukan sekadar bagian dari keributan. Mereka mempertanyakan siapa sebenarnya sasaran dari kalimat tersebut dan apa yang terjadi setelah teriakan itu terdengar.
Juru bicara keluarga Nabuasa, Jublina Widiyanti Kase, S.H., mempertanyakan konteks ucapan tersebut.
“Ada apa dengan dua ibu ini?” demikian pertanyaan yang disampaikan keluarga melalui rilisnya.
Keluarga meminta penyidik tidak hanya berfokus pada tindakan kekerasan yang terjadi setelahnya, tetapi juga menelusuri komunikasi, ucapan, serta tindakan setiap orang yang berada di lokasi sebelum Gustaf Nabuasa mengalami kekerasan.
Menurut keluarga, penting bagi penyidik memastikan apakah teriakan tersebut hanya merupakan luapan emosi spontan atau memiliki keterkaitan dengan rangkaian kejadian berikutnya.
Keluarga juga meminta seluruh saksi yang berada di tempat kejadian diperiksa secara menyeluruh. Termasuk pihak yang mendengar langsung teriakan tersebut dan mengetahui apa yang terjadi sesaat setelahnya.
Jublina menilai setiap potongan kejadian sebelum Gustaf meninggal perlu ditempatkan dalam satu rangkaian kronologi yang utuh.
Keluarga bahkan menduga terdapat pihak lain yang memainkan peran dalam rangkaian peristiwa tersebut. Dugaan mengenai adanya pihak yang disebut sebagai “sutradara” di balik kejadian itu kembali mereka sampaikan dan meminta penyidik membuktikannya melalui proses penyelidikan.
Namun, dugaan tersebut tetap menjadi bagian dari pernyataan keluarga dan perlu diuji melalui keterangan saksi serta alat bukti yang sah.
"Bagi keluarga Nabuasa, titik pentingnya adalah memastikan seluruh rangkaian kejadian sebelum kematian Gustaf terungkap secara terang, termasuk siapa yang memulai kekerasan, siapa yang memberikan dorongan atau provokasi, serta apa hubungan setiap tindakan tersebut dengan peristiwa yang kemudian merenggut nyawa Gustaf Nabuasa" tutup Jublina.
Editor : Marcel