Ratusan Warga Semarakkan Tegal Deso Ngesong, 137 Tumpeng Jadi Simbol Rasa Syukur

Reporter : Siti

Jatiminvestigasinews.com, Surabaya – Tradisi Tegal Deso atau Merti Desa (Bersih Desa) kembali digelar dengan penuh khidmat oleh warga Ngesong, Kelurahan Dukuh Kupang, Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya, pada Minggu (28/6/2026). Kegiatan tahunan yang telah diwariskan secara turun-temurun ini menjadi momentum ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus mempererat persatuan, kebersamaan, dan semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Acara dihadiri oleh Camat Dukuh Pakis, Lurah Dukuh Kupang, Kapolsek Dukuh Pakis Kompol Masdawati Saragih, S.H., M.H., Bhabinkamtibmas, Babinsa, Ketua RW 01 hingga RW 08, Ketua RT se-RW 06, tokoh agama, tokoh masyarakat, sesepuh kampung, para donatur, rekan-rekan media, serta ratusan warga yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh antusias.

Baca juga: Kecamatan Dukuh Pakis Telah Mengadakan Sedekah Bumi di Hiasi dengan Hasil Bumi

Rangkaian acara diawali dengan sambutan sesepuh kampung yang mengajak seluruh warga memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga tradisi Merti Desa dapat terus dilaksanakan. Dalam sambutannya, masyarakat juga diajak untuk senantiasa menjaga kerukunan, memperkuat tali persaudaraan, serta melestarikan budaya warisan leluhur.

Suasana semakin khidmat saat doa bersama dipimpin oleh Sugeng Pramono. Seluruh warga memohon agar lingkungan Gesong senantiasa diberi keselamatan, kesehatan, keberkahan, rezeki yang melimpah, serta dijauhkan dari segala musibah. Doa juga dipanjatkan agar tradisi Merti Desa tetap lestari sebagai simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat.

Mewakili panitia, Ketua Panitia Rizki Irfansah menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan, mulai dari pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, para donatur, hingga warga dan rekan-rekan media. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila masih terdapat kekurangan selama pelaksanaan acara.

Menurut panitia, tradisi Merti Desa di Ngesong telah berlangsung selama puluhan tahun, bahkan diperkirakan hampir mencapai setengah abad. Tradisi ini terus dipertahankan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat keselamatan, kesehatan, dan rezeki yang diberikan Allah SWT kepada seluruh warga.

Pelaksanaan Merti Desa Tahun 2026 berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat (26/6/2026) hingga Minggu (28/6/2026). Kegiatan diawali dengan pengajian umum yang menghadirkan KH Imam dari Benowo, dilanjutkan dengan prosesi ruwatan pada malam harinya. Puncak acara digelar pada Minggu melalui selamatan bersama yang menjadi simbol doa dan harapan agar seluruh warga senantiasa diberikan kedamaian, kesejahteraan, dan kemakmuran.

Sebelum prosesi dimulai, panitia mengajak seluruh peserta menghormati waktu azan. Setelah azan selesai berkumandang, acara dilanjutkan dengan tertib. Demi menjaga kelancaran kegiatan, panitia juga mengimbau seluruh peserta untuk berada di area yang telah disediakan karena pembagian tumpeng dilakukan di dalam lokasi prosesi.

Sebagai simbol dimulainya prosesi Merti Desa, Ketua Panitia Rizki Irfansah menyerahkan tumpeng secara simbolis kepada Camat Dukuh Pakis. Prosesi tersebut menjadi lambang rasa syukur, kebersamaan, dan harapan agar seluruh warga senantiasa hidup dalam keberkahan dan kerukunan.

Antusiasme masyarakat pada tahun ini meningkat signifikan. Sebanyak 137 tumpeng dari warga RT 01 hingga RT 05 berhasil dikumpulkan, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 122 tumpeng. Peningkatan tersebut menjadi bukti semakin kuatnya partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian tradisi Merti Desa sebagai warisan budaya yang sarat nilai kebersamaan.

Untuk mendukung kelancaran prosesi, seluruh tumpeng ditata membentuk dua formasi, yakni lingkaran kecil dan lingkaran besar. Penataan tersebut membuat prosesi doa bersama hingga pembagian tumpeng berlangsung dengan tertib, aman, dan penuh kekeluargaan.

Melalui tradisi Tegal Deso atau Merti Desa ini, warga Ngesong tidak hanya menjaga kelestarian budaya leluhur, tetapi juga memperkuat nilai-nilai persatuan, gotong royong, dan kebersamaan yang menjadi pondasi kehidupan bermasyarakat di tengah perkembangan zaman.

Editor : Siti

Polri
Berita Terpopuler
Berita Terbaru