Wajah Pendidikan yang Runtuh Bersama SD Inpres Oepula

Reporter : Bang Priyo

Jatiminvestigasinews.id,//Timor Tengah Selatan - Pertanyaan ini seharusnya menggema keras, terutama setelah tragedi yang terjadi pada 18 Maret 2026. Gedung SD Inpres Oepula runtuh, merenggut satu nyawa dan melukai tiga siswa lainnya. Ini bukan sekadar peristiwa nahas yang bisa kita sebut sebagai “musibah”. Ini adalah kegagalan yang nyata kegagalan sistem, kegagalan kebijakan, dan kegagalan nurani.pada hari Sabtu 
(21/3/2026)

Selama ini, pendidikan selalu dielu-elukan sebagai sektor prioritas. Ia menjadi jargon dalam pidato pejabat, janji dalam kampanye politik, dan bagian penting dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah. Pendidikan disebut sebagai kunci peningkatan kualitas sumber daya manusia, bahkan sebagai jalan keluar dari kemiskinan dan ketertinggalan. Namun, apa arti semua itu jika di lapangan, satu sekolah saja dibiarkan rusak dan terbengkalai bertahun-tahun tanpa perhatian.

SD Inpres Oepula bukan tiba-tiba runtuh dalam semalam. Kerusakan bangunan tentu sudah berlangsung lama. Retakan, atap yang rapuh, struktur yang melemah semua itu pasti sudah terlihat, dirasakan, bahkan mungkin sudah dilaporkan. Pertanyaannya ke mana semua laporan itu bermuara.

Apakah benar tidak ada proposal yang diajukan? Ataukah justru proposal sudah berkali-kali disampaikan, tetapi tidak pernah menjadi prioritas? Jika memang proposal sudah ada selama bertahun-tahun namun tidak direalisasikan, maka yang terjadi bukan lagi soal keterbatasan anggaran. Ini adalah bentuk nyata dari kelalaian, pembiaran, dan hilangnya rasa tanggung jawab.

Lebih menyakitkan lagi, korban dari kelalaian ini adalah anak-anak. Mereka datang ke sekolah dengan harapan untuk belajar, untuk masa depan yang lebih baik. Namun yang mereka temui justru bangunan yang mengancam keselamatan mereka setiap hari. Ini ironi yang sangat pahit tempat yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi sumber bahaya.

Peristiwa ini adalah tamparan keras bagi pemerintah daerah, khususnya para pejabat di Kabupaten TTS. Tidak ada lagi ruang untuk berdalih. Tidak ada lagi alasan untuk menunda. Karena fakta sudah berbicara satu nyawa melayang akibat kelalaian yang seharusnya bisa dicegah.

Di manakah nurani para pengambil kebijakan.

Apakah angka-angka dalam laporan lebih penting daripada keselamatan anak-anak,Apakah proyek-proyek lain dianggap lebih mendesak dibandingkan memperbaiki sekolah yang jelas-jelas dalam kondisi memprihatinkan? Ataukah suara dari daerah seperti Oepula memang terlalu kecil untuk didengar.

Kita tidak sedang membicarakan hal yang rumit. Ini bukan tentang teknologi canggih atau program besar yang membutuhkan waktu panjang. Ini tentang hal mendasar: memastikan bahwa bangunan sekolah layak dan aman digunakan. Jika hal sesederhana ini saja gagal dipenuhi, maka klaim tentang komitmen terhadap pendidikan patut dipertanyakan.

Lebih jauh lagi, tragedi ini menunjukkan adanya persoalan serius dalam tata kelola pemerintahan. Di mana fungsi pengawasan? Dimana peran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Komisi IV dalam pengawasan?Di mana peran dinas terkait? Bagaimana mekanisme penentuan prioritas anggaran.

Mengapa kondisi darurat seperti ini bisa luput dari perhatian selama bertahun-tahun.

Jika tidak ada evaluasi menyeluruh, maka tragedi serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk terjadi di tempat lain.

SD Inpres Oepula kini menjadi simbol - simbol dari janji yang tidak ditepati, dari prioritas yang keliru, dan dari sistem yang gagal melindungi warganya yang paling rentan. Namun tragedi ini tidak boleh berhenti sebagai simbol semata. Ia harus menjadi titik balik.

Pemerintah daerah harus segera mengambil langkah nyata melakukan audit terhadap seluruh kondisi infrastruktur sekolah, membuka transparansi terkait anggaran pendidikan, serta memastikan bahwa setiap laporan kerusakan ditindaklanjuti dengan cepat dan serius. Tidak boleh ada lagi sekolah yang dibiarkan menunggu runtuh untuk akhirnya diperhatikan.

Lebih dari itu, harus ada pertanggungjawaban. Karena tanpa akuntabilitas, setiap tragedi hanya akan menjadi berita sesaat yang dilupakan, tanpa perubahan berarti.

Kita semua tentu sepakat bahwa pendidikan adalah investasi masa depan. Namun investasi itu tidak dimulai dari slogan atau pidato. Ia dimulai dari hal paling dasar: menyediakan ruang belajar yang aman dan layak bagi setiap anak.

Jika keselamatan anak-anak saja tidak mampu menjadi prioritas, maka kita patut bertanya ulang pendidikan yang selama ini dibanggakan itu sebenarnya untuk siapa.

Dan jika tragedi ini pun belum cukup untuk menggugah hati nurani, lalu apa lagi yang kita tunggu.

(Marsel Talan)

Editor : Bang Priyo

Polri
Berita Terpopuler
Berita Terbaru