Jatiminvestigasinews.id, Kupang - Ini peringatan keras bagi pemerintah di tengah klaim kemajuan ekonomi dan teknologi, masih ada anak bangsa yang gugur di medan juang pendidikan karena alasan sepele bagi kita.
Kepergian YB siswa kelas IV sekolah dasar yang tew4s secara tr4gis akibat tak bisa membeli buku dan alat tulis di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menyisakan potret getir tentang kehidupan anak di tengah keterbatasan dan daerah terpencil di Indonesia.
Baca juga: Jalan Putus, Pemerintah Diam Apakah Ini Balasan untuk Rakyat yang Bayar Pajak?
Bocah itu tumbuh dalam kondisi keluarga rentan, tanpa pendampingan orang tua yang utuh dan jauh dari jangkauan bantuan sosial pemerintah.
YB diduga telah ditinggalkan ayahnya sejak masih dalam kandungan. Sejak itu, ibunya harus menjalani peran ganda sebagai orang tua tunggal. Untuk menyambung hidup, sang ibu bekerja serabutan di kebun, bahkan sejak masa kehamilan hingga YB tumbuh besar.
Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas berdampak langsung pada pengasuhan dan pendidikan anak-anak. Dari lima bersaudara, hanya dua anak yang tercatat sempat menikmati pendidikan formal secara berkelanjutan. Selebihnya putus sekolah di tengah jalan karena keterbatasan biaya dan pendampingan.
“Kami selalu berusaha penuhi (kebutuhan) semampu kami,” tutur sang nenek lirih, Selasa (3/2/2026).
Ironisnya, berdasarkan keterangan warga dan penelusuran lapangan, keluarga YB tercatat luput dari berbagai program bantuan pemerintah. Mereka tidak terdata sebagai penerima bantuan rumah layak huni, bantuan pendidikan, maupun bantuan sosial lainnya.
Dalam kesehariannya, YB hidup berpindah antara rumah ibunya dan pondok sederhana tempat neneknya tinggal. Lingkungan hidup yang terpencil, keterbatasan ekonomi, serta minimnya dukungan sosial membuat kehidupan bocah itu berjalan dalam sunyi.
semoga dengan Peristiwa men1nggalnya YB kini menjadi perhatian khususnya pemerintah tentang pentingnya akurasi data kemiskinan dan perlindungan anak. Tanpa kehadiran negara yang tepat sasaran, anak-anak dalam kondisi rentan berisiko tumbuh tanpa perlindungan yang memadai.
Baca juga: Warga Kupang Segunting Melaksanakan Kerja Bakti Menyemarakkan HUT 17 Agustus Tahun 2024
Ingat.....!!
kemajuan sebuah bangsa tidak di ukur dari gedung pencakar langitnya, tapi seberapa aman anak-anak yang lemah bisa bermimpi.
(Marsel Talan)
Editor : Siti