Berdasarkan Data Terbaru Angka Kematian di Sidoarjo, Mengalami Kenaikan Tercatat 14 Orang Tua  dan 85 Bayi

jatiminvestigasinews.id

Jatiminvestigasinews.id II Sidoarjo - Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Sidoarjo mengalami kenaikan. Berdasarkan data terbaru, tercatat Angka Kematian Ibu (AKI) 14 orang sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) mencapai 85 kasus.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas), Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo, Inensa Khoirul Harahap mengatakan, kebaikan Angka Kematian Ibu dan Bayi disebabkan adanya perubahan definisi indikator,"tegasnya.

Baca juga: Peringati ADD 2024, Plt Bupati Sidoarjo Subandi Imbau Jajaran Pemkab dan Masyarakat Lakukan Pencegahan dan Pengendalian DBD

Dimana pada tahun lalu, Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) diukur menggunakan KTP. Sedangkan mulai 2024, pengukuran beralih menggunakan indikator domisili.

"Definisi baru itu mengubah pencatatan kematian sesuai dengan domisili tempat tinggal, sebagai contoh, seseorang yang memiliki KTP Sidoarjo meninggal di Jember maka angka kematiannya di hitung di Jember,"ucapnya.

"Sebaliknya, seseorang yang meninggal dan sudah enam bulan di Sidoarjo, maka kematiannya akan tercatat di Sidoarjo, meskipun bukan warga Sidoarjo,"imbuhnya.

Menurutnya, tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Sidoarjo, karena tingginya mobilitas masyarakat di Kota Delta Sidoarjo. Tidak sedikit pekerja yang pindah di Sidoarjo dan membawa keluarga tanpa memantau kesehatannya secara teratur. Hal tersebut seringkali menjadi salah satu penyebab kematian Ibu dan Bayi.

Kendati demikian, bagi Inensa, pelayanan kesehatan di Sidoarjo sudah mengarah yang lebih baih. Semua kasus kematian Ibu dan Anak dilaporkan terjadi di rumah sakit.

Artinya, semua pasien mendapatkan perawatan medis, meskipun dalam kondisi sudah sangat kritis. Mereka meninggal bukan karena tanpa adanya perawatan.

"Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi memerlukan kolaborasi kompleks, dari fasilitas kesehatan primer, fasilitas kesehatan rujukan, hingga edukasi bagi keluarga pasien,"katanya.

Dia juga menekankan, pelayanan kesehatan ibu dan anak di Sidoarjo sudah mencapai Standart Pelayanan Minimum (SPM) dengan cakupan 100 persen. Dia memastikan setiap ibu hamil dan bayi yang lahir terdata dengan baik dan mendapatkan layanan yang memadai.

Dengan pencatatan dan pemantauan yang baik, kami memastikan tidak ada warga yang terpaksa mencari pengobatan alternatif seperti dukun bayi, kesehatan mereka dapat terlayani dan terpantau dengan baik,"tutupnya.(Widodo)

Editor : Bang Priyo

Polri
Berita Terpopuler
Berita Terbaru