Jatiminvestigasinews.id, Sampang — Aktivitas tanam tembakau mulai menggeliat di sejumlah wilayah pedesaan Kabupaten Sampang. Sejak pagi hari, petani tampak turun ke lahan, mengolah tanah dan menanam bibit sebagai bagian dari siklus tahunan yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
Di beberapa titik, lahan yang baru dibajak masih menyimpan sisa kelembapan air hujan. Kondisi ini dimanfaatkan petani sebagai fase ideal untuk memulai tanam lebih awal sebelum musim kemarau datang lebih dominan.
Musim tanam tahun ini berlangsung di tengah fase peralihan dari musim hujan menuju kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada periode April hingga Juni 2026.
Transisi ini menjadi fase krusial bagi petani tembakau. Tanaman ini membutuhkan keseimbangan awal antara kelembapan tanah dan paparan panas yang stabil untuk tumbuh optimal.
“Sekarang waktunya pas. Tanah masih basah tapi sudah mulai panas. Ini bagus untuk tembakau,” ujar Rohman, salah satu petani di Sampang, saat ditemui di lahan garapannya.
BMKG menyampaikan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dari kondisi normal. Sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal.
Fenomena ini tidak lepas dari pengaruh El Nino kuat yang oleh sebagian kalangan populer disebut sebagai El Nino “Godzilla”. Istilah ini merujuk pada intensitas El Nino yang tinggi dengan dampak signifikan terhadap penurunan curah hujan, khususnya di wilayah Indonesia.
Selain itu, musim kemarau 2026 juga diprediksi datang lebih awal di hampir separuh wilayah Indonesia dan berpotensi berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Periode paling kering diperkirakan terjadi pada Juni hingga Juli. Fase ini bertepatan dengan masa penting pertumbuhan hingga proses pengeringan daun tembakau.
“Kalau benar kering panjang, biasanya kualitas tembakau lebih bagus. Daunnya bisa matang sempurna,” tambah Rohman.
Kondisi kemarau panjang dinilai menjadi peluang besar bagi petani tembakau. Tanaman ini memang membutuhkan cuaca panas dan minim hujan untuk menghasilkan daun berkualitas tinggi, baik dari segi warna, aroma, maupun tekstur.
Namun demikian, BMKG juga mengingatkan adanya potensi hujan lokal yang masih bisa terjadi di tengah musim kemarau, terutama di wilayah Jawa bagian selatan.
Hujan yang turun di waktu tidak tepat dapat berdampak langsung pada kualitas daun tembakau, khususnya saat masa pematangan dan pengeringan.
“Kalau sudah mau panen lalu hujan, itu yang bikin rusak. Daun bisa menghitam dan kualitas turun,” ungkap seorang perajang tembakau di Sampang yang enggan disebutkan namanya.
Selain faktor cuaca, petani juga dihadapkan pada tantangan biaya produksi yang cenderung meningkat, mulai dari harga pupuk hingga ongkos tenaga kerja. Kondisi ini membuat petani harus lebih cermat dalam mengelola musim tanam agar tidak mengalami kerugian.
Pengalaman pahit musim tanam tahun sebelumnya masih membekas di kalangan petani. Cuaca yang tidak menentu menyebabkan banyak petani mengalami gagal panen, dengan kerugian mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah.
“Hujan sering turun waktu tidak tepat tahun kemarin. Banyak yang rugi besar, bahkan sampai puluhan juta,” kata Rohman.
Kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bagi petani untuk lebih memperhatikan pola tanam dan membaca kondisi cuaca.
Tembakau merupakan komoditas tahunan yang memiliki peran strategis dalam menggerakkan ekonomi desa. Perputaran uang dari sektor ini melibatkan banyak pihak, mulai dari petani, buruh tani, perajang, hingga pedagang dan pengepul.
Proses rajang tembakau sendiri sangat bergantung pada kondisi panas yang stabil. Cuaca kering sangat dibutuhkan agar hasil rajangan dapat kering sempurna dan memiliki nilai jual tinggi di pasaran.
Para perajang dan pedagang tembakau berharap musim tahun ini mampu memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
“Harapannya panasnya stabil. Kalau rajangan keringnya sempurna, harga biasanya ikut bagus,” ujar seorang pedagang tembakau lokal.
Di tengah prediksi kemarau ekstrem akibat El Nino kuat, para petani tetap menyimpan optimisme. Dimulainya musim tanam lebih awal menjadi strategi untuk mengantisipasi perubahan cuaca sekaligus memaksimalkan potensi hasil panen.
Petani berharap prediksi kemarau panjang benar-benar berpihak pada mereka. Bagi petani tembakau, kondisi kering yang konsisten bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk menghasilkan kualitas terbaik.
Di balik istilah El Nino “Godzilla” yang terdengar ekstrem, tersimpan harapan besar dari para petani agar musim tanam tahun ini menjadi titik kebangkitan setelah kerugian yang dialami sebelumnya.
Jika cuaca berjalan sesuai prediksi, bukan tidak mungkin sektor tembakau kembali menjadi penopang utama ekonomi masyarakat pedesaan di Kabupaten Sampang.*
Editor : Sarbaini