Jatiminvestigasinews.id, Sampang – Program makan bergizi gratis yang diharapkan menjadi penopang kesehatan pelajar justru memunculkan kekhawatiran di kalangan siswa. Di Pangarengan, dapur SPPG Ragung 3 kembali menjadi sorotan setelah sejumlah menu yang dibagikan dinilai tidak memenuhi standar kelayakan.
Pada pembagian menu hari Rabu, siswa menerima paket makanan yang terdiri dari nasi, lauk, telur, buah, dan susu. Namun dalam praktiknya, sejumlah susu ditemukan dalam kondisi bocor sehingga tidak layak dikonsumsi. Cairan yang merembes keluar dari kemasan membuat siswa memilih untuk tidak meminumnya.
Selain itu, isi paket makanan juga dikeluhkan karena tidak konsisten. Beberapa siswa mendapatkan porsi nasi yang minim dengan lauk sederhana. Bahkan, terdapat paket yang tidak dilengkapi susu sama sekali, sehingga komposisi gizi dinilai tidak terpenuhi.
Permasalahan kembali terjadi pada menu hari Jumat. Kali ini, telur yang disajikan menimbulkan kecurigaan setelah tercium aroma tidak sedap. Sejumlah siswa memilih tidak mengonsumsi telur tersebut karena khawatir terhadap kondisi kesehatannya.
Seorang guru yang enggan disebutkan namanya menyampaikan bahwa keluhan terkait kualitas makanan sebenarnya sudah berulang kali disampaikan kepada pihak pengelola dapur. Menurutnya, pihak dapur kerap memberikan respons positif, namun belum diikuti dengan perbaikan yang signifikan.
“Standar kelayakan makanan sudah sering kami sampaikan. Jawaban dari pihak dapur selalu menerima masukan dan berjanji akan memperbaiki,” ujarnya.
Namun demikian, kondisi di lapangan menunjukkan persoalan serupa masih terus terjadi. Hal ini menimbulkan dugaan adanya kelemahan dalam sistem pengawasan, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses distribusi.
Menanggapi hal tersebut, pihak dapur melalui asisten lapangan (aslap) dapur Ragung 3 saat dihubungi menyampaikan bahwa untuk temuan susu bocor maupun yang tidak terbagi telah dilakukan penggantian. Pihaknya mengklaim langkah tersebut sebagai bentuk tanggung jawab atas kekurangan dalam proses pemorsian dan distribusi.
Namun, terkait temuan telur yang diduga dalam kondisi tidak layak konsumsi, pihak dapur belum memberikan penjelasan rinci. Aslap menyatakan bahwa persoalan tersebut akan menjadi bahan evaluasi ke depan guna memastikan kualitas makanan tetap terjaga.
Selain kualitas bahan, proses pengemasan juga turut menjadi perhatian. Meskipun wadah terlihat rapi, isi di dalamnya dinilai belum mencerminkan standar keamanan dan kecukupan gizi yang seharusnya diterapkan dalam program resmi.
Jatiminvestigasinews.id sebelumnya telah berupaya melakukan konfirmasi melalui panggilan WhatsApp, hingga pesan singkat WhatsApp. Respons baru diberikan setelah kembali dilakukan upaya konfirmasi lanjutan, meski belum menjawab seluruh persoalan yang dikeluhkan.
Program makan bergizi gratis sejatinya memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang pelajar. Namun tanpa pengelolaan yang baik dan pengawasan yang ketat, tujuan tersebut berisiko tidak tercapai. Kasus yang terjadi di Pangarengan menjadi pengingat bahwa kualitas harus tetap menjadi prioritas utama dalam setiap program pelayanan publik.*
Editor : Sarbaini