‎Susu Hilang Misterius di Ompreng MBG, Menu Sampel dan Realisasi Bikin Dahi Berkerut ‎

jatiminvestigasinews.id
‎Dua menu MBG yang berbeda, sebelah kiri merupakan sampel dengan tambahan susu kemasan, sementara sebelah kanan adalah menu yang didistribusikan kepada siswa tanpa susu/istimewa/Bn.

Jatiminvestigasinews.id, Sampang – Program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang diduga didistribusikan oleh Yayasan Babur Rizki Darma Tanjung II mendadak jadi bahan perbincangan. Bukan tanpa sebab, perbedaan antara menu sampel dan makanan yang diterima siswa memicu tanda tanya dari berbagai pihak.

‎Sorotan ini mencuat setelah beredarnya foto yang memperlihatkan dua menu berbeda. Pada sampel yang ditunjukkan sebelumnya, terlihat adanya tambahan susu kemasan sebagai pelengkap gizi. Namun saat makanan benar-benar dibagikan kepada penerima manfaat, komponen tersebut justru tidak tampak.

‎Seorang guru yang enggan disebutkan namanya mengaku sempat terkejut saat melihat perbedaan tersebut. Ia menyebut menu yang diterima tidak sepenuhnya sesuai dengan yang sebelumnya diperlihatkan.

‎“Setelah kami terima, sempat kaget karena menunya berbeda dari sampel yang ditunjukkan,” ujarnya.

‎Tidak hanya dari kalangan pendidik, sejumlah wali murid juga ikut angkat bicara. Mereka menilai jika benar terdapat perbedaan antara sampel dan realisasi, maka hal itu berpotensi mengurangi transparansi dalam pelaksanaan program MBG.

‎Program yang sejatinya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa itu dikhawatirkan tidak sepenuhnya terealisasi sesuai standar yang dijanjikan.

‎“Kalau memang berbeda, tentu jadi pertanyaan. Program bergizi tapi realisasinya tidak sesuai yang ditampilkan,” ungkap salah satu wali murid.

‎Hingga berita ini diterbitkan, redaksi masih berupaya mengonfirmasi pihak terkait, termasuk kepala dapur Yayasan Babur Rizki Darma Tanjung II. Upaya konfirmasi melalui pesan WhatsApp dari tim belum mendapatkan tanggapan resmi terkait alasan perbedaan menu tersebut.

Perbedaan ini pun memunculkan persepsi beragam di tengah masyarakat. Di satu sisi, program MBG diharapkan menjadi solusi pemenuhan gizi siswa. Namun di sisi lain, temuan di lapangan justru menimbulkan kesan adanya ketidaksesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan.

‎Fenomena ini seolah menggambarkan satu ironi sederhana di lapangan. Apa yang tampak dalam sampel belum tentu sama dengan yang sampai ke tangan penerima.

‎Di tengah harapan besar terhadap program tersebut, publik kini menunggu penjelasan resmi agar tidak menimbulkan spekulasi berkepanjangan.


Editor : Sarbaini

Polri
Berita Terpopuler
Berita Terbaru