Jatiminvestigasinews.id, Sampang — Kondisi SDN Margantoko 1 di Kabupaten Sampang memprihatinkan. Seluruh ruang kelas dan ruang guru mengalami kerusakan berat sehingga dinilai tidak layak ditempati untuk kegiatan belajar mengajar.
Kerusakan tersebut terlihat jelas saat dilakukan peninjauan langsung ke lokasi sekolah. Atap bangunan jebol di sejumlah titik, rangka kayu penyangga lapuk dan sebagian patah, sementara beberapa genteng runtuh. Plafon di beberapa ruang kelas telah ambruk dan menyisakan rangka terbuka. Dinding mulai retak dan material bangunan tampak berserakan di sudut ruangan.
Bangunan sekolah terakhir kali mendapatkan rehabilitasi besar pada tahun 2012. Sejak itu, hanya dilakukan perawatan ringan yang tidak mampu mengatasi kerusakan struktural yang kini semakin parah.
Saat hujan turun, air merembes melalui atap yang bocor dan menetes ke lantai kelas. Angin kencang membuat bagian atap bergetar, menambah rasa cemas bagi siswa dan guru yang berada di dalam ruangan.
Akibat banyak ruang kelas yang tidak dapat digunakan, pihak sekolah mengambil langkah darurat dengan menggabungkan siswa kelas 1 hingga kelas 4 dalam satu ruangan yang dianggap paling aman.
Di dalam ruangan tersebut, siswa dari berbagai tingkatan belajar secara bersamaan. Guru harus membagi perhatian dan metode pembelajaran dalam satu waktu untuk beberapa jenjang kelas sekaligus. Kondisi ini tentu jauh dari ideal dan berdampak pada efektivitas proses belajar.
Meski demikian, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung setiap hari. Para siswa tetap datang ke sekolah dengan semangat, meskipun harus belajar di bangunan yang kondisinya mengkhawatirkan.
Kerusakan bangunan juga berdampak pada jumlah peserta didik. Sejak tahun 2022 hingga tahun ajaran baru tahun ini, terjadi penurunan jumlah siswa secara signifikan setiap tahunnya.
Warga sekitar, Yuli Yanti, menyebut banyak orang tua merasa khawatir terhadap keselamatan anak-anak mereka.
“Sejak bangunannya makin rusak, orang tua jadi takut. Mereka khawatir kalau sewaktu-waktu ada bagian bangunan yang roboh saat anak-anak sedang belajar,” ujarnya.
Sebagian orang tua akhirnya memindahkan anak mereka ke SDN Margantoko 2 yang dinilai lebih aman. Namun sekolah tersebut berjarak lebih jauh dari permukiman warga sehingga anak-anak harus menempuh perjalanan lebih panjang setiap hari.
Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan menyeluruh karena kondisi bangunan dinilai sudah mengancam keselamatan siswa.
“Harapannya segera diperbaiki. Jangan sampai menunggu ada kejadian dulu,” tambahnya.
Kepala SDN Margantoko 1, Suranta, yang ditemui langsung di sekolah saat peliputan berlangsung, menyampaikan bahwa kondisi kerusakan hampir terjadi di seluruh ruangan.
“Semua ruang kelas dan ruang guru memang sudah tidak layak digunakan secara normal,” jelasnya.
Ia mengatakan pihak sekolah telah mengajukan permohonan rehabilitasi sejak tahun 2024 dan kembali diusulkan pada 2026. Usulan tersebut disebut telah masuk dalam perencanaan, namun hingga kini belum ada realisasi pembangunan.
Pihak sekolah terus berupaya meminimalkan risiko dengan mengatur posisi belajar siswa agar tidak berada di bagian bangunan yang paling rawan. Namun dengan kondisi hampir seluruh ruangan rusak, pilihan yang tersedia sangat terbatas.
Sementara itu, Kepala Bidang Sekolah Dasar, Yusuf, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengusulkan perbaikan SDN Margantoko 1 melalui program rehabilitasi sekolah. Namun, kewenangan penetapan sekolah penerima bantuan berada di tingkat kementerian.
“Sekolah tersebut sudah kami usulkan dalam program rehabilitasi. Namun untuk penetapannya menjadi kewenangan kementerian. Kami hanya mengajukan sesuai dengan kuota yang diberikan,” jelasnya saat ditemui di kantornya.
Ia menuturkan jumlah sekolah dasar di wilayah tersebut tergolong banyak, sementara kuota bantuan yang tersedia setiap tahun sangat terbatas.
“Tahun lalu hanya 14 SD yang mendapatkan bantuan, itu pun dibagi dalam dua tahap. Sehingga tidak semua sekolah yang diusulkan dapat langsung terealisasi,” ungkapnya.
Meski demikian, Yusuf memastikan pihaknya akan terus mengajukan sekolah-sekolah yang dinilai membutuhkan perhatian dan prioritas perbaikan.
“Kami tetap berkomitmen mengusulkan sekolah yang kondisinya mendesak agar bisa segera mendapatkan penanganan,” tegasnya.
Kondisi SDN Margantoko 1 menjadi gambaran persoalan infrastruktur pendidikan yang masih membutuhkan perhatian serius. Perbaikan menyeluruh dinilai mendesak untuk segera direalisasikan, karena yang dipertaruhkan bukan hanya kelangsungan proses belajar, melainkan juga keselamatan generasi penerus.*
Editor : Sarbaini