Jatiminvestigasinews. id TTS – Suasana mencekam terjadi di kantor Desa Nusa, Kecamatan Amanatun Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan pada 18 September lalu. Seorang warga, Lasarus Tanono, mengaku diperlakukan tidak manusiawi oleh oknum Bhabinkamtibmas setempat.pada hari Sabtu (4/10/2025)
Lasarus menuturkan, dirinya dipanggil melalui sambungan telepon oleh Komandan Linmas desa. Saat itu, ia sedang berada di Niki-Niki untuk membeli obat akibat sakit yang dideritanya.
Dalam percakapan tersebut, Komandan Linmas meminta Lasarus segera kembali ke desa untuk menyelesaikan persoalan yang belum jelas duduk perkaranya. “Saya ada perlu,” jawab Lasarus singkat saat ditanya keberadaannya.
Lasarus kemudian mengiyakan permintaan tersebut. Namun, di tengah perjalanan tepatnya di wilayah Supul, ia kembali ditelepon agar segera menuju kantor desa.
Setibanya di sana, Lasarus langsung dijemput oleh Komandan Linmas untuk dibawa ke kantor desa. Situasi berubah menegangkan ketika motor yang ditumpanginya tiba di halaman kantor desa.
Menurut Lasarus, oknum Bhabinkamtibmas langsung menghentikan kendaraannya dengan nada tinggi. “Hei, sini,” ucap Lasarus menirukan kata sang Bhabinkamtibmas.
Tekanan semakin terasa. Ia mengaku digertak, diancam akan disepak, bahkan dimaki dengan kata-kata kasar yang menyebut hewan. “Anjing satu, babi satu ini. Tau dia di mana sa ko, kami su datang dari tadi. Pikir kami tunggu sonde cape,” ujar Lasarus menirukan.
Lasarus mengaku tidak mengetahui adanya agenda di kantor desa hari itu. Menurutnya, ia tidak pernah menerima pemberitahuan resmi maupun surat panggilan dari pihak desa.
Saat memasuki ruangan, ketegangan semakin meningkat. Oknum Bhabinkamtibmas yang sejak awal membuntutinya, menurut Lasarus, kembali melontarkan kata-kata kasar dan menyuruhnya berlutut.
“Lu berlutut, babi kau ini,” kata Lasarus menirukan makian yang dialamatkan kepadanya.
Ia mengaku tidak berdaya dan memilih menuruti perintah tersebut. Lebih jauh, Lasarus mengaku berlutut dalam posisi itu selama kurang lebih dua jam.
“Tekanan luar biasa saya rasakan sejak dari depan kantor desa sampai di dalam ruangan,” ungkapnya.
Kepala Desa Nusa, Yunus Nuban, yang ditemui terpisah membantah pernyataan tersebut. Menurutnya, tidak benar jika Lasarus dipaksa berlutut atas perintah oknum Bhabinkamtibmas.
Yunus menegaskan, saat itu pihak desa hanya berupaya memediasi masalah antara Lasarus dengan keluarga Faot. “Kami hanya mengingatkan agar kedua pihak menghindari kontak fisik jika situasi memanas,” jelasnya.
Ia menambahkan, kebetulan saat itu ada persiapan rapat BUMDes di kantor desa. Namun, pihaknya tetap menerima kedatangan warga yang berselisih untuk mencari jalan damai.
Secara terpisah, oknum Bhabinkamtibmas telah dikonfirmasi terkait pengakuan Lasarus namun hingga kini belum memberikan jawaban.
(Marsel Talan)
Editor : Bang Priyo